Selasa, 18 Juni 2013
MAKALAH PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR PAI BERBASIS MASJID
PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR PAI BERBASIS MASJID
LAPORAN PENELITIAN
(Di Masjid Agung Al Munwwar Tulungagung)
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“Pengembangan Sumber Belajar PAI”
Dosen Pembimbing
Drs. H. Munarji, M.Ag.
Disusun oleh :
Kelompok III
1. Puput Alfianti (3211113150)
2. Siti Halimah (3211113161)
3. Wahyu Nur Hidayat (3211113172)
4. Wahyu Nur Hidayati (3211113173)
PAI IVE
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
APRIL 2013
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya untuk Allah SWT Tuhan Semesta Alam. Sholawat dan salam tetap tercurahkan dan dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, serta keluarga, sahabat, dan pengikutnya.
Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT. atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan hasil pengamatan mengenai Laporan Penelitian yang berjudul Pengembangan Sumber Belajar Pai Berbasis Materi Masjid. Dengan hadirnya laporan ini diharapkan dapat memberikan sedikit informasi bagi para pembaca.
Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap kepada semua pihak atas segala saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini. Ucapan terima kasih penulis haturkan pada seluruh pihak yang mendukung penyusunan laporan ini, antara lain:
1. Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku Ketua STAIN Tulungagung
2. Drs. H. Munarji,M.Ag. selaku Dosen Pembimbing
3. KH. Syihabuddin Abdullah,sebagai Narasumber (Imam Al-Munawwar)
4. Joni Musthakim, sebagai Narasumber (Ketua Remas Al-Munawwar)
5. Keluarga besar masjid Al-Munawwar Tulungagung
6. Semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan laporan peneletian ini
7. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan dan lain-lain
Akhirnya, atas segala keterbatasan yang penulis miliki apabila terdapat kekurangan dan kesalahan mohon maaf. Semoga laporan hasil pengamatan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi bekal pengetahuan bagi penulis di kemudian hari. Amiin yaa Robbal `aalamin.
Tulungagung, 18 April 2013
Penyusun,
Daftar Isi
Halaman judul............................................................................................. i
Kata pengantar............................................................................................ ii
Daftar isi ..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 1
C. Tujuan Penelitian......................................................................... 2
D. Metode Pengumpulan Data........................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Profil Narasumber…………............................................... 4
B. Kajian Teori…………………............................................ 5
1. Sejarah Masjid.............................................................. 5
2. Peran dan Fungsi Masjid……………………….......... 6
C. Hasil Wawancara………………………………………… 9
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan.................................................................................. 15
B. Saran …………………………………………………………… 15
C. Daftar Rujukan…………………………………………………. 16
D.Lampiran (Instrumen)…………………………………………… 17
E. Lampiran (Foto)…………………………………………………. 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Dewasa ini, Masjid merupakan tempat beribadah yang mengalami perkembangan dalam desain dan pembuatannya. Tak jarang disebuah daerah yang tak mempunyai masjid sebagai pusat kota. Seperti pada masak lasik Islam, masjid mempunyai fungsi yang jauh lebih besar dan bervariasi dibandingkan fungsinya yang sekarang.
Disamping sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial dan politik umat Islam. Lebih dari itu, masjid adalah lembaga pendidikan semenjak masa paling awal Islam. Masjid pula yang menjadi pilar utama pembangunan peradaban pada suatu negeri. Inilah yang dicontohkan Rasulullah ketika pertama kali beliau menginjakan kakinya di Madinah.
Saat ini masjid sudah sangat berkembang, di Daerah-daerah sudah banyak sekali kita temui masjid yang megah, apa lagi di pusat-pusat kota. Bangunan-bangunan masjidpun sekarang sudah sangat bervariasi bahkan berlomba-lomba untuk mendisain sebagus mungkin. Setiap kota memiliki sejumlah masjid, sebab pembangunannya tidak saja dilakukan penguasa resmi, tetapi juga oleh para bangsawan, hartawan dan swadaya masyarakat. Jumlah masjid terus bertambah sejalan dengan meluas dan majunya peradaban Islam.Sekarang ini masjid bukan hanya tempat untuk beribadah tetapi juga sebagai sumber belajar.Sebagai observasi kami pun tertarik dengan masjid Agung Al Munnawar yang tempat beradi di pusat kota Tulungagung. Di masjid ini banyak sekali kegiatan-kegiatan yang patut untuk di liput ataupun di ikuti.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Masjid Agung Al Munawwar?
2. Apa saja kegiatan yang berada di Masjid Agung Al Munawwar?
3. Apa upaya yang dilakukan pengurus dalam mengembangkan Masjid Agung Al Munawwar?
C. Tujuan Penelitian
1. Bagi penyusun
Dapat menambah wawasan penyusun tentang pengembangan sumber belajar PAI berbasis Masjid.
2. Bagi pembaca
1) Dapat digunakan sebagai bahan kajian dan bahan referansi dalam penyusunan laporan penelitian yang berkaitan dengan materi yang kami kaji.
2) Berkenaan dengan materi yang kami kaji, dapat dijadikan sebagai alternative untuk mengembangkan sumber belajar PAI berbasis Masjid.
3. Berdasarkan Rumusan Masalah
1. Mengetahui sejarah berdirinya Masjid Agung Al Munawwar
2. Mengetahui kegiatan yang berada di Masjid Agung Al Munawwar
3. Mengetahui upaya yang dilakukan pengurus dalam mengembangkan Masjid Agung Al Munawwar
D. Metode Pengumpulan Data
Dalam rangka memperoleh data atau informasi tentang objek pengamatan, penyusunmenggunakan beberapa metode guna menjamin kebenaran data. Metode pengumpulan data yang digunakan penyusun adalah sebagai berikut:
1. Observasi: merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan kepada individu yang bersangkutan melalui kegiatanya sehari-hari
2. Wawancara : merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi ini dilakukan dengan individu yang bersangkutan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Profil Narasumber
1. Narasumber 1
Nama : Sihabudin Syadullah.
Tempat, tanggal lahir : Gresik, 12 desember 1948
Alamat : Jalan Teuku Umar No.11 Kauman Tulungagung
Agama : Islam
Status Sosial : Menikah
Pendidikan Terakhir : -
Pekerjaan/Jabatan : Wiraswata / Imam Masjid Agung Al Munawwar
B. Kajian Teori
1. Sejarah Masjid
Pada masa Rasullah, pada tahun kenabian yang ke-13 dan tahun 1412 Hijriyah, sebuah kalifah yang terdiri dari para sahabat yang disebut sebagai kaum Muhajirin dan dipimpin oleh Rasullulah Muhammad SAW, berarak meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah menuju Madinah yang waktu itu masih bernama Yathrib. Setelah berhari-hari berjalan kaki menyusuri padang pasir tandus di tengah terik matahari, sampailah rombongan itu di sebuah desa bernama Quba’ yang berjarak hanya beberapa kilometer sebelum kota Yathrib. Walaupun kota Yathrib telah kelihatan di depan mata, namun Nabi mengajak para sahabat untuk berhenti dan bersama-sama mendirikan tempat ibadah. Mereka bersama-sama bekerja bahu-membahu mengumpulkan batu untuk fundamen dan lantai, memotong pohon korma untuk tiang dan daunnya untuk dinding serta atap, Nabi sendiri tidak hanya memberi komando tetapi juga terlibat ikut mencucurkan keringat. [1]
Tempat ibadah inilah yang kelak disebut masjid, dan merupakan masjid yang pertama kali didirikan oleh umat Islam. Setelah masjid berdiri, maka Rasulullah SAW beserta sahabatnya mengadakan sholat jum’at pertama, pada peristiwa ini Rasulullah SAW, menyampaikan khotbah yang sangat singkat, lalu meneruskan perjalan menuju kota Yathrib untuk menggapai cita-cita hijrah yang telah diperintahkan Allah SWT.[2]
Adapun hadits tentang masjid, sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmizi dari Abi Sa’id Al-Khudri berbunyi bahwa tiap potong tanah itu adalah masjid. Dalam hadist yang lain Nabi Muhammad saw menerangkan, “telah dijadikan tanah itu masjid bagiku, tempat sujud”. Masjid berasal dari kata sajada-sujud,
Salah satunya bermakna mengikuti maupun menyesuaikan diri dengan ketetapan Allah berkaitan dengan alam raya. Dalam perkembangannya kata-kata masjid sudah memiliki pengertian khusus, yakni suatu bangunan yang berfungsi dipergunakan sebagai tempat shalat, baik shalat lima waktu, shalat jumat maupun shalat hari raya. Kata masjid di Indonesia menjadi istilah baku sehingga bila disebut kata-kata masjid maka yang dimaksudkan adalah tempat melaksanakan shalat jumat. Tempat-tempat shalat yang tidak dipergunakan untuk shalat jum’at maka tidak disebut masjid di Indonesia.
Masjid sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan spiritual sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat saja, tetapi juga merupakan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beberapa ayat dalam Al quran menyebutkan bahwa fungsi masjid adalah sebagai tempat yang didalamnya banyak menyebut nama Allah (tempat berdzikir), tempat beri’tikaf, tempat beribadah (shalat), pusat pertemuan islam untuk membicarakan urusan hidup dan perjuangan (QS Ali Imran : 114; Al Hajj : 40; Ali Imran : 187; Al Jin : 18-19 ; Al Hajj : 25).[3]
2. PERAN DAN FUNGSI MASJID
Masjid dalam peradaban pendidikan islam di Indonesia selain berfungsi sebagai tempat ibadah, mempunyai peran sekaligus memiliki fungsi yang sangat vital dalam perkembangannya yaitu:
a. Masjid Sebagai Pusat Pendidikan Islam di Indonesia
Dalam hubungannya dengan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, sejak awal penyebaran Islam, masjid telah memegang peranan yang cukup besar. Kedatangan orang-orang Islam ke Indonesia yang pada umumnya berprofesi sebagai pedagang, mereka hidup berkelompok dalam beberapa tempat, yang kemudian tempat-tempat yang mereka tempati tersebut menjadi pusat-pusat perdagangan. Di sekitar pusat-pusat dagang itulah, mereka biasanya membangun sebuah tempat sederhana (masjid), dimana mereka bisa melakukan shalat dan kegiatan lainnya sehari-hari. Memang tampaknya tidak hanya kegiatan perdagangan yang menarik bagi penduduk setempat. Kegiatan para pedagang muslim selepas dagang pun menarik perhatian masyarakat. Maka sejak itulah pengenalan Islam secara sistematis dan berlangsung di banyak tempat.
Awal penyebaran Islam tidak bisa terlepas dari jasa besar masjid, yang menjadi tempat bertemunya ulama dengan masyarakat umum. Keterlibatan dua pihak yang saling bersepakat untuk bertemu di sebuah tempat yang bernama masjid. Masjid sangat diperlukan, mengingat tidak ada tempat yang lebih memadai dalam mewadahi proses itu. Bahkan dimasa lampau sebelum dikenalnya sekolah dan lembaga lainnya, masjid itulah merupakan satu-satunya pusat kegiatan pendidikan bagi penduduk pedesaaan.
Generasi awal muslim Indonesiapun, mulai dirintis melalui proses pendidikan Islam di masjid. Merekalah yang nantinya membuka jalan baru dalam membentuk masyarakat muslim di Indonesia dan menyebar sampai seluruh pelosok tanah air hingga terbentuknya kerajaan Islam di Indonesia.[4]
Tak mengherankan apabila para Wali (yang lebih dikenal sebagi Wali Songo) ketika mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak, berbarengan dengan itu juga mendirikan masjid Agung Demak. Begitu juga para Wali yang lain dalam melaksanakan misi dakwahnya senantiasa menjadikan masjid seabagi basis gerakannya. Dan ternyata memang hal ini merupakan warisan dari tradisi Nabi Muhammad SAW, pada awal-awal menegakkan Islam. Maka bukan hal yang istimewa apabila di setiap alun-alun sebuah kota, di sebelahnya selalu berdiri masjid. Kenapa masjid? Ya, karena masjid merupakan miniatur (kosmos kecil) dari konfigurasi kehidupan (kosmos besar). Disana terjadi interaksi sosial, di sana ada masyarakat dan pimpinan, di sana ada tempat untuk memperhalus benang spiritualisasi (hablum minallah), dan ada ruang untuk ngaji, memperdalam keilmuan dan membahas permasalahan sosial (hablum minanas).[5]
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan dalam sistem pendidikan Islam di masjid, yaitu:
1. Tenaga pendidik, mereka adalah orang-orang yang tidak meminta imbalan jasa, tidak ada spesifikasi khusus dalam keahlian mengajar, mendidik bukan pekerjaan utama, dan tidak diangkat oleh siapapun.
2. Mata pelajaran yang diajarkan terutama ilmu-ilmu yang bersumber kepada al-Qur'an dan al-Sunnah, namun dalam perkembangan berikutnya ada bidang kajian lain, seperti: tafsir, fikih, kalam, bahasa Arab, sastra maupun yang lainnya.
3. Siswa atau peserta didik, mereka adalah orang-orang yang ingin mempelajari Islam, tidak dibatasi oleh usia, dari segala kalangan dan tidak ada perbedaaan.
4. Sistem pengajaran yang dilakukan memakai sistem halaqah.
5. Metode pengajaran yang diterapkan memakai 2 metode, yakni metode bandongan dan metode sorogan
6. Waktu pendidikan, tidak ada waktu khusus dalam proses pendidikan di masjid, hanya biasanya banyak dilakukan di sore hari atau malam hari, karena waktu tersebut tidak mengganggu kegiiatan sehari-hari dan mereka mempunyai waktu yang cukup luang[6]
b. Perkembangan Pendidikan Islam di Masjid
Pada hakekatnya, masjid memiliki potensi untuk menjadi pusat pendidikan dan peradaban. hal ini tercermin dalam tata ruang daerah, desa atau kota masyarakat muslim, seperti banyak diketemukan di Indonesia. Di beberapa daerah, masjid selalu diketemukan di pusat-pusat kota, mendampingi bangunan pusat pemerintahan, menghadap lapangan luas atau alun-alun.
Mudahnya seseorang memeluk Islam, menjadikan Islam cepat tersebar ke seluruh Nusantara. Banyak orang tua yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam namun memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu, memerintahkan anak-ankanya untuk pergi ke surau atau langgar untuk mengaji pada seorang guru ngaji atau guru agama. Bahkan ada pada masyarakat yang kuat religiusitanya ada suatu tradisi yang mewajibkan anak-anak yang berumur 7 tahun meninggalkan rumah dan ibunya, kemudian tinggal di surau atau langgar untuk mengaji pada guru agama. Memang pada mulanya, Pendidikan Agama Islam di surau, langgar atau masjid masih sangat sederhana. Modal pokok yang mereka miliki hanya semangat menyiarkan agama bagi yang telah memiliki ilmu agama dan semangat menuntut ilmu bagi anak-anak. Mereka yang mengajar di masjid-masjid itu tanpa diangkat oleh siapapun.
Banyak daerah di Indonesia, menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran. Bahkan di Minangkabau, masjid menduduki tempat penting dalam struktur sosial dan keagamaan masyarakat. Karena itu surau yang bentuknya lebih kecil dari masjid menjadi penting pula bagi kehidupan masyarakat Minang. Fungsinya sebagai tempat penginapan anak-anak bujang tidak berubah, lalu fungsi tersebut diperluas menjadi tempat pengajaran dan pengembangan ajaran Islam, menjadi tempat mengaji, belajar agama dan tempat upacara-upacara yang berkaitan dengan agama.
Kehadiran surau dalam masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam semacam pesantren jelas berkaitan erat dengan perluasan fungsi surau dalam masyarakat Minangkabau.Ini pertama dirintis oleh Syekh Burhanuddin (1066 – 1111 H / 1646 – 1691 M) di Ulakan, Pariaman. Di surau inilah Syekh Burhanuddin melakukan pengajaran Islam dan mendidik beberapa ulama yang menjadi kader dalam pengembangan ajaran Islam selanjutnya di tanah Minang. Salah seorang murid Syekh Burhanuddin yang paling terkenal adalah Tuanku Mansiang Nan Tuo, mendirikan surau pula di kampungnya, Paninjuan.[7]
Setelah kerajaan Islam jatuh dan kaum Paderi dipatahkan oleh penjajah Belanda, maka mulailah pendidikan dan pengajaran Islam memudar. Meskipun demikian, pendidikan Islam di surau-surau dan di masjid-masjid tetap tegak dan tak pernah mati, walaupun pemerintah Belanda telah mendirikan beberapa sekolah sebagai saingan dari suaru-surau itu.
Pasca kemerdekaan, masjid-masjid di pedesaaan berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah shalat, belajar membaca al-Qur'an bagi anak-anak dan memperingati hari-hari besar Islam.Di daerah perkotaan, fungsi masjid menjadi semakin luas.Masjid digunakan sebagai tempat pembinaan generasi Islam, ceramah dan diskusi keagamaan serta perpustakaan.
E. Hasil Wawancara
Penyusun melakukan pengamatan pada hari sabtu,13 April 2013. Dalam pengamatan ini penulis menggunakan metode observasi dan wawancara. Kami memilih Bapak Sihabudin Syadullah selaku Imam di Masji Agung Al Munawwar sebagai narasumber. Berikut hasil observasi dan wawancara kami,
1. Sejarah Berdirinya Masjid Agung Al Munawwar
Masjid Agung Al Munawwar sedikit demi sedikit sudah memiliki rekaman sejarah, dengan penyeimbang masa generasinya.Sehingga dengan keberadaan masjid menumbuhkan kejasmanian dan kerohanian generasi muda. Remaja Masjid Al Munawwar Tulungagung sendiri dalam naungan refleksi sejarah sedikit demi sedikit dalam pengelolaanya sudah mencerminkan pola kejasmanian dan kerohanian. Maksud dari pengeloalaan kejasmanian, seperti adanya olahraga, kerjasama dalam baksti sosial, sedangkan pengelolaan kerohanian adalah kegiatan sholat berjamaah, kegiatan sholawatan, pengkajian kitab islam, dan baca Al Qur’an.
Bangunan Masjid Agung Al Munawwar, bangunan aslinya merupakan wujud bangunan kuno (tradisional), kita dapat melihatnya pada foto Arsip daerah Tulungagung. Menurut ahli penelitian bahwasanya perubahan gaya bangunan Masjid Agung Al Munawwar terjadi sebanyak 3 kali, bisa disebut dengan istilah masjid 3 zaman. Selain itu keberadaan Masjid Agung Al Munawwar selain menjadi tempat beribadah , juga menjadi tempat untuk akselerasi budaya dan juga kegiatan yang bernuansa islami. Dimasjid lah kita secara tidak langsung berinteraksi dengan masyarakat, sehingga masjid menjadi pusat aktifitas masyarakat untuk beribadah, hubungan dengan Alloh SWT dan juga hubungan dengan manusia.
Masjid Agung Al Munawwar dulunya merupakan masjid kuno atau masjid peninggalan zaman madya Indonesia, dimana bentuk masjidnya mengalami proses akulturasi dari budaya hindu. Dan memiliki ciri-ciri diantaranya :
1. Berdenah persegi atau bujur sangkar.
2. Mempunyai serambi depan dan samping.
3. Memakai pagar keliling dengan satu pintu utama atau gapura.
4. Beratap tumpang dan arah kiblat ke barat.
5. Penopangnya berupa tiang kayu (soko).
6. Menara masjid berdiri terlepas dari bangunan induk masjid.
7. Mempunya kocehan atau kolam air.
Contoh masjid yang bergaya klasik dengan beratap tumpang diantaranya : Masjid Winong, Masjid Macang Bang, Masjid Tawangsari, Masjid Majan, Masjid Al Muhajjirin dan Masjid Agung Al Munawwar(namun atap tumpangnya baru). Masjid atap tumpang merupakan akulturasi dari budaya Hindu. Mengenai atap yang beratapan tumpang mempunya makna tersendiri, yaitu :
1. Masjid beratapan tumpang satu, mempunyai makna Laillahaillah.
2. Masjid beratapan tumpang dua, mempunyai makna dua kalimat syahadat.
3. Masjid beratapkan tumpang tiga, mempunyai makna imam, islam dan Ihsan.
Masjid Almunawar Tulungagung biasa disebut masjid tiga jaman, sebab Masjid Agung Al Munawwar Tulungagung mengalami transisi perubahan bangunan selam tiga kali periode
1. Periode Ngrowo ( Masji Awal )
2. Periode Transisi ( Bapak Syaifudin Said)
3. Periode Modern( Bapak Ir. Heru Cahyono, MM).
Menurut Bapak Kyai Ali Mustakim sesepuh kelurahan Kauman yang dipaparkan oleh Bapak KH. Abu Sofyan Sirojuddin, selaku Ketua Takmir Masjis Agung Almunawwar Tulungagung periode 2007-2012, mengatakan bahwa keberadaan tanah yang berada diatasnya dibangun sebuah Masjis Agung Al Munawwar Tulungagung dulunya merupakan tanah waqaf dari embah Ichan Puro. Narasumber tidak dapat menelusuri data dari mbah Ihsan Puro karena pada saaat itu belum ada yang mendokumntasikan dan selain itu keluarganya pun sulit untuk dilacak dan pelaku sejarah ( oral history ) pada saat itu mayoritas telah meninggal dunia. Menurut Bapak Muhadi Latif Mbah Ihsan Puro dulunya adalah keluarga kenaiban dan dulunya bertempat tinggal sekitar daerah Masjid Agung Al Munawwar.
Bermula dari tanah waqaf tersebut, kemudian dari tahun ke tahun Masjid Agung Al Munawwar berkembang dengan adanya tambahan dana Infaq, para donatur dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Sehingga masjid ini dapat dibangun menjadi 2 lantai yang begitu megah dengan ukiran-ukiran, lampu-lampu yang begitu indah, dan di lantai 2 pun terdapat kakbah.Dalam pembangunan masjid ini pembangunan fisik meliputi pendanaan dan desain masjid menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten Tulungagung. Dulunya masjid ini bergaya jawa kuno kemudian mengalami pembangunan yang meniru masjid-masjid yang ada di Madinah.
Masjid Agung Al Munawwar di bangun pertama diperkirakan sekitar tahun 1262 H / 1841 Masehi, angka tersebut dapat dilihat dari hiasan ukir-ukiran imaman yang berada di Masjid Jami’ Al-Muhajjirin Gedang sewu Tulungagung tepatnya di bagian atas. Bapak Kiai Asrori Ibrohim, merupakan seorang yang paling berperan dalam Masjid Al Munawwar beliau adalah pencetus nama masjid Al Munawwar, yang berarti Terang Benderang. Beliau berharap dengan menggunakan nama tersebut masjid ini dapat meneranggi umat Islam yang kurang akan kepeduliannya dengan masjid. Awal mulanya masjid ini bukanlah Al Munawwar, dahulunya bernama Masjid Jami’. Dengan nama tersebut tak begitu lama hingga berganti nama dengan nama masjid Agung . Dengan nama yang keduapun ada perubahan lagi, sehinga Bapak Kiai Asrori Ibrohim mencetuskan nama Masjid Agung Al Munawar dan bertahan hingga sampai sekarang.
Selain itu imam masjid yang pertama kali, yang hidup pada masa tersebut belum dapat di deteksi siapa saja. Jadi siapa yang mengagas berdirinya Masjid Agung Al Munawwar Tulungagung masih belum jelas. Bahkan takmir yang pertama kalipun juga masih sulit untuk di telusuri keberadaannya.
Bukti awal di bangunnyan Masjid Agung Al Munawwar Tulungagung sekarang ini berada di Masjid Jami’ Al-Muhajirin Gedang Sewu. Karateristik tersebut terlihat pada perpaduan antara tulisan arab dan bahasa jawa serta tanpa ada harokatnya. Karateristik tersebut terdiri dari tiga baris, adanya bunyi dalam bacaan bahasa Indonesia :
Baris pertama : Lailaha illalloh muhammadar rosulullah.
Baris kedua : Penget tatkala nyeler kiai Mangun (fihqon).
Baris ketiga : Ing dino ahad kaping 11 sawal tahun 1262 H.
Tulisan tersebut berada di sisi atas tepatnya di tengah-tengah hiasan imaman dengan di kelilingi hiasan ukir-ukiran yang bermotif bunga.
Sehingga antara Masjid Agung Al Munawwar dan Masjid Jami’ Al-Muhajirin Gedangsewu merupakan sinergi kemasjidtan yang tidak dapat di pisahkan. Dimana dua masjid itu seiring perjalanannya menyimpan sejarah penuh makna.
2. Kegiatan yang Berada di Masjid Agung Al Munawwar
Selain masjid ini tempat untuk beribadah adapun kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat baik pendidikan, maupun sosial yakni seperti kegiatan Aqad nikah, peringatan Hari besar islam, Istighosah dan kegiatan isidentil yang lain. Kegiatan rutinan yang di adakan setiap hari, minggu, bulan, dan tahunnya. Meliputi :
a. Kegiatan harian:
· Sholat 5 waktu, dimana yang bertugas sebagai Imam selalu bergantian. Imamnya pun dipilih oleh ta’mir bacaan harus fasih,suara bagus, dan hafal al qur’an.
· 15 menit sebelum adzan diadakan pembacaan Tartil Al qur an.
· Shalat Jum’at
b. Kegiatan mingguan:
· Tausiyah yang diadakan setiap tiga kali dalam satu minggu pada waktu subuh. Yang dibawakan oleh KH. Anang Muhsin dari tulungagung.
· Yasinan setiap malam jum’at setelah sholat magrib.
· Tiba’an ibu-ibu setiap malam jum’at setelah sholat isa’
· Tilawatil Qur’an setiap malam minggu yang dilaksanakan pada jam 20.00
· Mengaji Kitab Kuning setiap malam selasa setelah sholat isa’
· Hadroh setiap hari sabtu yang dilaksanakan pada jam 16.00
· Pencak silat setiap hari minggu pagi yang dilaksanakan dihalaman DPRD
c. Kegiatan bulanan :
· Acara aqad nikah
· Istiqhosah
· Pengajian akbar
· Manasik haji
d. Kegiatan tahunan:
· Buka bersama setiap bulan Ramadhan satu bulan penuh
· Sholat Idhul fitri
· Sholat Idhul adha dan Penyembelihan hewan qurban.
· Santunan anak yatim
· Pondok Ramadhan/Biwani
· Pemilihan Anggota Baru (PAB) Remas
· Peringatan Nuzunul Qur’an
· Bedah buku
· Pelatihan shalat jenazah
Selain kegiatan-kegiatan di atas adapun kegiatan yang pernah dilakukan yaitu mengunjungi atau study banding dengan masjid-masjid ternama di kota-kota lain yaitu di Surabaya, Malang, blitar, Bandung dan yang terakhir di Jogokarya Jogyakarta. Dari tahun ketahun Masjid Agung Al Munawwar mengalami perkembangan yang sangat baik dan semakin maju. Dimana banyak kegiatan yang di lakukan dari pihak Remas maupun masyarakat. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut tak perlu dikhawatirkan mengenai biaya, karena biaya-biaya yang di keluarkan diperoleh dari PEMDA, donatur, dan masyarakat.
3. Upaya Pengurus dalam Mengembangkan Masjid Agung Al Munawwar
Upaya yang dilakukan pengurus-pengurus dalam mengembangkan Masjid Agung Al Munawwar yaitu selalu menjaga kebersihan Masjid, mengelola masjid dengan baik, membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Di Masjid Agung Al munawwar sendiri terdapat anggota Remas 100 orang laki-laki dan perempuan. Pengurus harian remas tidur di masjid (kamar remas) dan mereka mempunyai tugas masing-masing dalam masjid.
Selain itu untuk menjaga keuanggan masjid pun dijaga dengan sangat hati-hati, cara membuka infaq pun berbeda dari masjid-masjid yang lain. Dimana Masjid Agung Al Munawwar membuka infaqnya pada hari jum’at dan itu semua dilakukan disaksikan oleh seorang saksi, takmir dan bendahara. Selain itu Masjid ini juga memiliki tenaga keamanan (satpam) untuk menjaga keamanan didalam maupun di luar masjid.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1) Masjid sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan spiritual sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat saja, tetapi juga merupakan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan
2) Masjid memiliki potensi untuk menjadi pusat pendidikan dan peradaban
3) Gaya bangunan Masjid Agung Al Munawwar terjadi sebanyak 3 kali, bisa disebut dengan istilah masjid 3 zaman
4) Masjid atap tumpang merupakan akulturasi dari budaya Hindu. Mengenai atap yang beratapan tumpang mempunya makna tersendiri, yaitu : Masjid beratapan tumpang satu (Laillahaillah), masjid beratapan tumpang dua (dua kalimat syahadat), masjid beratapkan tumpang tiga, mempunyai (imam islam dan Ihsan)
5) Upaya yang dilakukan pengurus-pengurus dalam mengembangkan Masjid Agung Al Munawwar yaitu selalu menjaga kebersihan Masjid, mengelola masjid dengan baik, membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat
B. Saran
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengaharapkan kritik dan sarannya yang membangun, agar penyusunan laporan ini bisa lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan khususnya bagi penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Zainal Arifin Thoha.2002. Eksotisme Seni Budaya Islam,Yogyakarta:Bukulaela
Widodo.2002Masjid dan PengembanganPendidikan Islam di Indonesia
Andrik,Masjid dan Pendidikan.2008,http://andrikprastiyono.net/education/merevitalisasi-fungsi-masjid, 17 Oktober 2008.
LAMPIRAN I
Instrumen Wawancara
- Siapa yang mendirikan masjid Al-Munawwar?
- Kapan berdirinya masjid Al-Munawwar?
- Apa yang melatarbelakangi berdirinya masjid Al-Munawwar?
- Mengapa masjid ini diberi nama masjid Al-Munawwar?
- Dimana bangunan masjid Al-Munawwar pertama kali didirikan?
- Bagaimana perkembangan masjid Al-Munawwar dari sejak awal berdiri hingga sekarang?
- Apa saja nilai unggul masjid Al-Munawwar bila dibandingkan dengan masjid yang lain?
- Apa saja sarana dan prasarana yang ada di masjid Al-Munawwar?
- Apa saja kegiatan yang ada masjid di Al-Munawwar baik dalam proses beribadah maupun kegiatan-kegiatan bermanfaat baik pendidikan maupun sosial?
- Bagaimana proses beribadah di beribadah adapun kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat baik pendidikan, maupun sosial? (jadwal kegiatan)
- Siapa yang bertugas sebagai Imam?
- Syarat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang imam?
- Terkait dengan beribadah, bagaimana upaya atau strategi dalam mengembangkan antusiasme remaja untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta?
- Apa saja cakupan materi pelajaran PAI yang ada di MI Al-Azhar?
- Apa saja kendala dalam pengembangan masjid, baik yang dialami Imam maupun Remaja Masjid?
- Upayaapa saja yang dilakukan untuk mengantisipasi kendala yang terjadi?
- Apa harapan Bapak untuk masjid Al-Munawwar kedepannya?
LAMPIRAN II
FOTO
Sihabudin Syadullah ( Selaku Imam Masjid di Al-Munawwar)
Lampiran Foto
III
[1]Zainal Arifin Thoha, Eksotisme Seni Budaya Islam,Yogyakarta:Bukulaela,2002,hal.22.
[3]http://satriadholan.blogspot.com/2010/09/makalah-masjid-dan-perkembangan.htmldiakses pada tanggal 14april 2013.
[5]Zainal Arifin Thoha, ibid, hal. 37.
[6]Andrik,Masjid dan Pendidikan.2008,http://andrikprastiyono.net/education/merevitalisasi-fungsi-masjid, 17 Oktober 2008.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
sangat menginspirasi :)
Posting Komentar