Senin, 24 Juni 2013
MAKLAH METODOLOGI" QTL diimplementasikan dalam pelajaran pai"
MAKALAH
“Model Pembelajaran Quantum
Teaching
dan Implementasinya Pada
Pembelajaran PAI”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliyah
“METODOLOGI
PENDIDIKAN ISLAM”
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. H. Achmad Patoni, M.Ag
NIP: 19521211 198003 1004
DisusunOleh:
Puput Alfianti NIM : 3211113150
Putri Rusmita Sari NIM : 3211113151
Saadatul Umamah NIM : 3211113182
TARBIYAH
PENDIDIKAN ISLAM
SEMESTER IV
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
APRIL 2013
KATA
PENGANTAR
Dengan meyebut nama Allah Yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala
puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Atas segala
limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul hubungan tasawuf dengan ketauhitan.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW. Yang mana beliau sebagai revolusioner dunia yang membawa umatnya
dari zaman Jahiliyah menuju zaman Islamiyah.
Dengan hadirnya makalah ini
diharapkan dapat memberikan banyak informasi
bagi para pembaca khususnya mahasiswa Program Studi(PAI) Pendidikan
Agama Islam.
Dalam
penulisan makalah ini kami banyak mencurahkan tenaga dan fikiran untuk dapat
terwujudnya makalah ini, namun demkian dalam penyusunan makalah ini banyak
kekuranga dan kesalahan maka kami minta maaf dan tidak lupa kami ucapkan banyak
terimakasih kepada:
1.
Prof. Dr.
Maftukhin, M.Ag. selaku Ketua STAIN Tulungagung.
2.
Prof. Dr. H. Achmad
Patoni,
M.Ag,selaku dosen pembimbing.
3.
Admisi pendidikan STAIN Tulungagung.
4.
Semua pihak
yang terlibat
dalam proses penyelesaikan
makalah ini.
Mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi bekal pengetahuan
bagi penyusun di kemudian hari. Amiin yaa Robbal `alamin.
Tulungagung, 24 Mei 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………….1
KATA PENGANTAR…………………………………………………..2
DAFTAR ISI…………………………………………………………….3
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar belakang masalah……………………………………………4
b. Rumusan masalah………………………………………………….5
c. Tujuan pembahasan masalah………………………………………5
BAB II PEMBAHASAN
a.
Pengertian
Quantum Teaching ……………………………….....6
b.
Azas Quantum
Teaching ……………………………...................7
c.
Tujuan metode
Quantum Teaching ……………………….............7
d.
Konsep metode
Quantum Teaching...............................................10
e. Implementasi
Quantum Teachingpada
Pembelajaran PAI.........11
BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan……………………………………………………….16
DAFTAR RUJUKAN………………………………………………….17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Metodologi merupakan hal yang sangat penting dalam Pendidikan Agama
Islam ( PAI ). Metode adalah suatu cara mengajar, yang berfungsi sebagai alat
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semakin baik metode yang digunakan, maka
akan semakin efektif dan efisien pula pencapaian tujuannya. Dalam metode
mangajar, faktor guru, siswa, bahan yang akan diajarkan, situasi, sarana,
prasarana, serta fasilitas-fasilitas lainnya sangat besar pengaruhnya.
Dengan banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam
penggunaan suatu metode, maka sebenarnya cukup sulit bagi seorang guru untuk
menetapkan metode yang paling baik dan harus dipakai di dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam agar pembelajaran tersebut berhasil. Dan metode Quantum
Teaching merupakan salah satu metode yang dapat dipakai dalam proses
pembelajaran agama ( PAI ).
Oleh karena itu di dalam dunia pendidikan perlu adanya model
belajar yang baru berupa Quantum Teaching Learning dengan tujuan agar
proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar dan tujuan yang diinginkan
dapat tercapai.Berlatar belakang pernyataan di atas, maka penulis makalah ini
kami beri judul " Quantum Teaching Learning".
B. Rumusan
masalah
1.
Bagaimana
pengertian Quantum TeachingLearning ?
2.
Bagaimana azas
Quantum TeachingLearning ?
3.
Bagaimana
tujuan metode Quantum TeachingLearning ?
4.
Bagaimana
konsep metode Quantum TeachingLearning ?
5.
Bagaimana
implementasi Quantum Teaching Learning pada pambelajaran PAI ?
C. Tujuan
Makalah
1.
Untuk
mengetahui pengertian Quantum Teaching Learning.
2.
Untuk mengetahui
azas Quantum Teaching Learning.
3.
Untuk
mengetahui tujuan Quantum Teaching Learning.
4.
Untuk
mengetahui konsep metode Quantum Teaching Learning.
5.
Untuk
mengetahui implementasi Quantum Teaching Learning pada pambelajaran PAI.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Quantum TeachingLearning
Quantum Teaching berasal dari kata Quantum yang berarti interaksi
yang mengubah energy menjadi cahaya. Sedangkan Quantum teaching itu sendiri
bisa diartikan sebagai suatu orkestrasi bermacam – macam interaksi yang ada
didalam dan sekitar momen belajar.Interaksi – interaksi ini mencakup unsur –
unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi –
interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang
akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Sehingga Quantum Teaching ini
mempraktekkan Quantum Learning dalam kelas mencakup petunjuk spesifik untuk
mencipatakan lingkungan belajar efektif merancang kurikulum menyampaikan isi
memudahkan proses belajar di manapun dan apapun segala yang bersifat
menyenangkan, enjoy, santai, dan meriah. Jadi belajar tidak harus di dalam
kelas dan penataan yang khusus dan monoton, namun dimanapun tempatnya dan
bagaimanapun formasinya, asalkan itu bisa menyenagkan dan bisa memberikan
motivasi pada guru maupun peserta didik, itulah yang dinamakan Quantum Teaching.[1]
Pengertian Quantum Teaching menurut beberapa ahli :
1.
Bobby De Porter
yaitu: Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam
memudahkan proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan
pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.[2]
Quantum
Teaching menjadikan segala sesuatu berarti dalam proses belajar mengajar,
setiap kata, pikiran, tindakan asosiasi dan sampai sejauh mana mengubah
lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran.
2.
Colin Rose juga
berpendapat bahwa Quantum Teaching adalah panduan praktis dalam mengajar yang
berusaha mengakomodir setiap bakat siswa atau dapat menjangkau setiap siswa.
Metode ini sarat dengan penemuan-penemuan terkini yang menimbulkan antusiasme
siswa. Quantum Teaching menjadikan ruang-ruang kelas ibarat sebuah konser musik
yang memadukan berbagai instrumen sehingga tercipta komposisi yang menggerakkan
dari keberagaman tersebut. Sebagai guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid,
anda seolah-olah memimpin konser saat berada di ruang kelas.
B. Azas Quantum TeachingLearning
Azas
Quantum Teaching adalah “ Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita, Dan Antarkan
Dunia Kita Ke Dunia Mereka “. Maksudnya adalah guru harus bisa memasuki
dunia murid sebagai langkah awalnya. Caranya adalah dengan mengaitkan apa yang
guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari
kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi, atau akademis. Selain
kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa muridnya ke dalam dunia guru, dan
memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu, maka kosa kata baru, model
mental, rumus dan lain-lain dapat dibeberkan. Dengan pengertian dan pemahaman
yang lebih luas, siswa dapat membawa apa yang mereka (murid) pelajari ke dalam
dunia mereka.[3]
Jadi
menurut kelompok kami, Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang
harus dipelajari siswa, tetapi siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan
hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
B. Tujuan
Quantum Teaching Learning
Adapun tujuan Quantum Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan
yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan
menggairahkan.Terdapat perbedaan antara tujuan dan prioritas.Tujuan merupakan
hasil akhir yang ingin diraih. Sedangkan prioritas merupakan tahapan-tahapan
yang akan dilalui dalam mencapai tujuan. Menciptakan suasana yang dinamis dalam
belajar, dengan memadukan berbagai unsur-unsurnya serta melakukan penggubahan,
merupakan tahapan-tahapan untuk mencapai ilmu pengetahuan yang luas sebagai
tujuan.
- Prinsip Quantum Teaching
- Model Quantum Teaching
Adapun prinsip
Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
1)
Segalanya
berbicara
Segalanya mulai dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru,
dari kertas hingga rancangan pelajaran guru, semuanya mengirim pesan tentang
belajar
2)
Segalanya
bertujuan
Semua yang terjadi dalam penggubahan kita, mempunyai tujuan. Oleh
karena itu, Kathy Wagone membuat istilah yang memotivasi: “tetapkanlah sasaran
tersebut agar bisa berprestasi setiap harinya”.
3)
Pengalaman
Sebelum dan Pemberian Nama
Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang
akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses yang paling baik
terjadi ketika siswa telah mendapatkan informasi sebelum memperoleh kesimpulan
dari apa yang mereka pelajari.
4)
Akui Setiap
Usaha
Belajar mengandung resiko.Belajar berarti melangkah keluar dari
kenyamanan.Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat
pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.Seperti kata Noelle C.
Nelson bahwa pujian atau penghargaan kepada seseorang atas karyanya memunculkan
suatu energi yang membangkitkan emosi positif.
5)
Jika Layak Dipelajari,
Layak Pula Dirayakan
Perayaan
adalah sarapan para pelajar juara.Perayaan memberikan umpan balik mengenai
kemajuan dan meningkatkan minat dalam belajar.Sehubungan dengan itu, Dryden
berpesan bahwa ingatlah selalu untuk merayakan setiap keberhasilan.
Adapun Model Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
Model Quantum Teaching dianalogikan dengan sebuah simfoni, yang
mana ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman music. Dalam quantum
teaching, unsur-unsur itu dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
1) Tahap Pertama (Konteks)
Yang dimaksud dengan tahap pertama atau konteks yaitu tahap
persiapan sebelum terjadinya interaksi di dalam kelas. Berhubungan dengan
konteks, ada empat aspek yang harus dipersiapkan:
a) Suasana,
termasuk di dalamnya keadaan kelas, bahasa yang dipilih, cara menjalin rasa
simpati dengan siswa, dan sikap terhadap sekolah dan belajar.
b) Landasan,
yaitu kerangka kerja: tujuan, keyakinan, kesepakatan, prosedur, dan aturan
bersama yang menjadi pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.
c) Lingkungan,
yaitu cara menata ruang kelas, pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi,
tanaman, dan semua hal yang mendukung proses belajar.
d) Rancangan,
yaitu penciptaan terarah unsur-unsur penting yang menimbulkan minat siswa,
mendalami makna, dan memperbaiki proses tukar menukar informasi.
2) Tahap Kedua (Isi)
Tahap kedua isi merupakan tahap pelaksanaan interaksi belajar,
hal-hal yang berhubungan dengan bagian ini adalah:
a) Presentasi,
yaitu penyajian pelajaran dengan berdasarkan prinsip-prinsip Quantum Teaching
sehingga siswa mereka dapat mengetahui banyak hal dari apa yang dipelajari.
Tahap ini juga diistilahkan pemberian petunjuk, yang bermodalkan dengan
penampilan, bunyi dan rasa berbeda.
b) Fasilitas,
yaitu proses untuk memadukan setiap bakat-bakat siswa dengan kurikulum yang
dipelajari, dengan kata lain bagian ini menekankan bagaimana keahlian seorang
pengajar sebagai pemberi petunjuk, langkah-langkah apa yang akan ditempuh untuk
mengakomodasi karakter siswa.
c) Keterampilan
Belajar, yaitu bagian yang mengajarkan bagaimana trik-trik dalam belajar
yang tentu berdasarkan pada prinsip-prinsip Quantum Teaching, sehingga para
siswa memahami banyak hal, meskipun dalam waktu yang singkat.
d) Keterampilan
Hidup, bagian ini mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan efektif dengan
orang lain sehingga terbina kebersamaan dalam hidup. Keterampilan hidup
diistilahkan juga keterampilan sosial.[4]
D. Konsep Quantum Teaching Learning
Quantum Teaching merupakan konsep yang diturunkan dari Quantum
Learning yang mempunyai motto membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Dari
konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam dunia bisnis, maka dibuatlah
Quantum Bisnis, begitu pula konsep Quantum Learning yang akan diterapkan dalam
interaksi belajar mengajar, maka dirancanglah konsep Quantum Teaching.
Quantum Teaching merupakan sebuah strategi untuk mempraktekkan
Quantum learning di ruang-ruang kelas, berusaha memberikan kiat-kiat, petunjuk,
dan seluruh proses yang dapat menghemat waktu, mempertajam pemahaman dan
daya ingat, membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan
bermanfaat.[5]
Berdasarkan tujuan dari proses belajar mengajar, maka dapat diambil
sebuah kesimpulan bahwa untuk dapat mendapatkan wawasan yang luas, pembentukan
sikap dan memberikan keterampilan, konsep Quantum Teaching inilah langkah
atau strategi yang komprehensif untuk meraih tujuan tersebut. Sedangkan
kerangka rancangan belajar quantum teaching dikenal dengan istilah TANDUR,
yaitu :
1.
Tumbuhkan, menumbuhkan minat dengan memuaskan “apakah manfaat
bagiku” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
2.
Alami, menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang dapat
dimengerti semua pelajar.
3.
Namai, menyediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai
sebuah masukan.
4.
Demonstrasikan, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk
menunjukkan bahwa mereka tahu.
5.
Ulangi, menunjukan pelajar cara- cara mengulang materi dan
menegaskan bahwa “aku tahu bahwa aku memang tahu”
6.
Rayakan, pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan
ketrampilandan ilmu pengetahuan.[6]
Dari konsep belajar mengajar dalam Quantum Teaching tersebut, ada
empat ciri sebagai berikut :
1.
Adanya Unsur
Demokrasi dalam Pengajaran.
Hal ini
terlihat bahwa dalam Quantum Teaching terdapat unsur kesempatan yang luas
kepada seluruh siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan
kajian terhadap suatu mata pelajaran.
2.
Sebagai akibat
dari ciri yang pertama, maka memungkinkan tergali dan terekspresikan seluruh
potensi dan bakat yang terdapat pada diri si anak.
3. Adanya
kepuasan pada diri si anak. Hal ini terlihat dari adanya pengakuan terhadap
temuan dan kemampuan yang ditunjukkan oleh si anak, sehingga secara
proporsional.
4. Adanya unsur
pemantapan dalam menguasai materi atau suatu ketrampilan yang diajarkan. Hal
ini terlihat dari adanya pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai si
anak.
5. Adanya unsur
kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang dihasilkan si anak,
dalam bentuk konsep, teori, model, dan sebagainya pada situasi baru.[7]
E.Implementasi Quantum Teaching pada
Pembelajaran PAI
Pada pembelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI) ranah afektif dan ranah psikomotorik bisa dikatakan lebih dominan
dibanding ranah kognitifnya.Beranjak dari asumsi ini pengajaran PAI di sekolah
umum semestinya memberikan porsi lebih banyak kepada penggunaan model dan
strategi pembelajaran yang lebih mengarah kepada pencapaian aspek afektif dan
psikomotorik, namun tetap tidak boleh mengabaikan aspek kognitif.Jika demikian
halnya, maka penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran PAI kiranya
dapat diaplikasikan. Adapun langkah-langkah pengajaran PAI sesuai dengan
prinsip dan model Quantum Teaching.[8]
1) Menata Nilai
Guru harus memiliki niat yang kuat
bahwa apa yang dilakukannya hanya semata untuk beribadah kepada Allah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara melalui pendidikan dan menyiapkan
generasi penerus bangsa yang baik dan berkualitas. Membekali siswa dengan
nilai-nilai agama yang diharapkan bisa menjadi nilai spiritual mereka dalam
seala aktivitasnya.Yang tak kalah penting dalam konteks ini adalah positive
thinking bahwa setiap siswa memiliki kemampuan dan motivasi untuk
belajar.Dengan modal keyakinan ini, guru berusaha sebisa mungkin memaksimalkan
potensi yang dimiliki siswa untuk kepentingan pembelajaran.
2. Menata Kelas
Guru harus mampu menata ruang kelas
sedemikian rupa sehingga siswa merasa tidak bosan berada dalam kelas dalam
waktu yang lama. Jika ruang kelas dikelola dengan baik, maka akan memberikan
manfaat dan peran besar untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Di
antara contoh penataan itu yaitu mengatur posisi bangku, memberi aksesoris,
menempelkan hasil karya siswa di dinding kelas, menempelkan kata-kata motivasi
yang bisa diambil dari Al-Qur’an, hadits, perkataan sahabat Rasul atau para
ulama, dan lain-lain. Berikut ini beberapa contoh penataan bangku yang
disesuaikan dengan kondisi siswa, kelas, dan materi yang diajarkan dan bisa
saja dikembangkan oleh guru menjadi lebih baik:[9]
a)
Bentuk
Lingkaran
Penataan model ini sangat ideal
untuk diskusi kelompok besar.Dalam pembelajaran PAI formasi ini bisa dipakai
guru mendemonstrasikan berbagai praktek ibadah kepada siswa, seperti ibadah
sholat.
b)
Bentuk
U atau setengah lingkaran
Penataan ini adalah formasi serba
guna.Siswa bisa menggunakan meja untuk membaca dan menulis, dapat melihat guru
dan media yang dipakai dengan mudah.Dengan formasi ini siswa dengan mudah
dipasangkan, khususnya bila ada dua tempat duduk per meja.
c)
Penataan
Berhadapan
Formasi ini cocok untuk lingkungan
aktif khas laboratorium di mana duduk di ruang kerja untuk mengerjakan soal
atau tugas.Formasi ini juga cocok untuk mendorong kemitraan dalam belajar.Dalam
pembelajaran PAI, formasi ini bisa digunakan untuk pengajaran Al-Qur’an, di
mana bagi siswa yang mampu mengajarkan kepada yang tidak mampu secara intensif.
d)
Proses
Pembelajaran
Hal-hal berikut ini bisa
diperhatikan oleh guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
dan bervariasi: [10]
1. Keteladanan
Dalam dunia pendidikan ada sebuah
prinsip yang sangat popular “At thariqatu ahammu minal maddah, wal mu’allimu
ahammu min ath thariqah” (Metode pembelajaran lebih penting dari pada
materi, namun guru lebih penting dari pada metode itu sendiri).Dari prinsip ini
tergambar bahwa guru mempunyai peran yang sangat vital dan sentral, terlebih
lagi dalam pengajaran agama dan moral.Dan dalam Al-Qur’an yang artinya adalah
dosa besar menurut Allah, jika engkau mengatakan sesuatu tetapi engkau tidak
melakukannya.
Pepatah dan ayat di atas, semuanya
mengacu pada keteladanan.Siswa sering tidak tertarik dalam pembelajaran karena
melihat ada kontradiksi antara perkataan dan perbuatan guru. Namun ketika guru
bisa memberikan keteladanan, maka akan lahir perasaan dalam diri siswa kesebangunan
dan kecocokan antara yang mereka dengar dengan apa yang mereka lihat. Misalnya,
ketika guru mengajarkan tentang kedisiplinan, maka guru harus menunjukkan
kedisiplinannya kepada seluruh siswa.
2. Metode Pengajaran
Guru harus mampu menggunakan metode
yang beragam dan dapat mengkombinasikannya dengan baik. Intinya guru sangat
diharapkan aktor yang mampu memainkan dan menyentuh berbagai gaya belajar anak,
sehingga pembelajaran tidak terkesan monoton. Pembelajaran juga bisa terjadi di
luar kelas, di ruang terbuka atau pergi ke tempat tertentu, sehingga para siswa
tidak merasa bosan.
3. Media Pembelajaran
Penggunaan media diharapkan agar
proses pembelajaran menjadi lebih menarik, pembelajar lebih aktif dan
interaktif, mengurangi proses pembelajaran dengan teknik yang konvensional
saja, dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahan dan proses pembelajaran.
Sehingga mutu hasil pembelajaran akan meningkat. Misalnya, materi tentang
ibadah haji, guru PAI dapat menggunakan gambar, foto, atau film yang berkaitan
dengan pelaksanaan ibadah haji sebagai medianya.
4. Apresiasi
Guru harus memberikan apresiasi
kepada siswa terhadap hasil yang telah mereka kerjakan. Apresiasi bisa berupa
materi seperti hadiah barang maupun non materi seperti kata-kata pujian,
motivasi, perhatian, atau hal-hal positif lainnya.
5. Menyusun Kesimpulan
Dalam pembelajaran dengan Quantum
Teaching, menutup pelajaran tidak boleh bersifat satu arah.Di mana guru
yang menyimpulkan materi, sedangkan siswa hanya mendengarkan saja.Oleh karena
itu, siswa harus didorong untuk dapat menemukan kesimpulan dari materi yang
disampaikan.Selanjutnya, guru memberikan penguatan atas kesimpulan yang
disampaikan siswa. Seorang guru mata pelajaran PAI dapat mengajak para siswanya
bermuhasabah pada akhir pembelajaran dengan cara mengaitkan materi dengan
contoh kasus yang sedang berkembang.
Implementasi Quantum Teaching dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dipandang tepat sekali yang meliputi 3
langkah pengajaran PAI sesuai dengan prinsip dan model Quantum Teaching
yaitu menata nilai, menata ruang kelas, danmemperhatikan proses pembelajaran.
Di mana guru dapat menyampaikan materi pembelajaran di kelas secara inovatif
dengan mengkombinasikan metode maupun strategi pembelajaran secara tepat
sehingga siswa dapat melalui pembelajaran dengan menyenangkan dan pembelajaran
dapat berjalan efektif dan efesien.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Pengertian
Quantum Teaching adalah konsep yang menguraikan cara-cara baru dalam memudahkan
proses belajar mengajar, lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian
yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.
2.
Azas Quantum
Teaching adalah “ Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita, Dan Antarkan Dunia
Kita Ke Dunia Mereka “. Maksudnya adalah guru harus bisa memasuki dunia
murid sebagai langkah awalnya.
3.
Tujuan Quantum
Teaching adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan
prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
4.
Konsep quantum
teaching adalah membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Patoni Ahmad, metodologi pendidikan agama islam. Jakarta,
PT. bina ilmu, 2004.
Bobby De Porter, Quantum Teaching, alih bahasa oleh Ary
Nilandari (Cet. XI; Bandung: Kaifa, 2003),
Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar (Cet. III; Jakarta:
Bumi Aksara, 2004),
Harto, Kasinyo dan Abdurrahmansyah. 2011. Metodologi
Pembelajaran Berbasis Active Learning (Arah Baru Pembelajaran PAI di Sekolah
dan Madrasah). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
http : // psychemate. blogspot.com/2007/12/quantum.teaching.html.
[1]Patoni ahmad, metodologi
pendidikan agama islam. Jakarta, PT. bina ilmu, 2004. Hal 179
[2]Bobby De Porter, Quantum Teaching, alih bahasa oleh Ary
Nilandari (Cet. XI; Bandung: Kaifa, 2003), hal. 3
[3]http : // psychemate.
blogspot.com/2007/12/quantum.teaching.html.
[4]Patoni ahmad, metodologi
pendidikan agama islam. Jakarta, PT. bina ilmu, 2004. Hal 180-181
[5] Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar (Cet. III; Jakarta:
Bumi Aksara, 2004), h. 77
[6].Patoni Ahmad, metodedologi pendidikan agama islam, Jakarta, PT.
bina ilmu 2004. Hal 181
[8]Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah, Metodologi
Pembelajaran Berbasis Active Learning (Arah Baru Pembelajaran PAI di Sekolah
dan Madrasah), (Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2011), hlm. 167
Langganan:
Komentar (Atom)